Minggu, 19 September 2010

Kasus Penularan AIDS di Afrika Menurun

 Ada kabar gembira dari dunia kesehatan. Kasus penularan HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) di Afrika, penyebab utama banyak angka kematian di benua tersebut, mengalami penurunan sekitar 25 persen sejak 2001. Perkembangan ini jelas suatu kebanggaan bagi Program Anti-AIDS Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNAIDS).

"Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia kesehatan, tingkat penularan HIV/AIDS benar-benar mengalami perubahan yang sebelumnya menjadi titik dengan penyebaran terbanyak," ujar Michel Sidibe, Direktur Eksekutif UNAIDS di Jenewa, Swiss, Sabtu (18/9). Sayangnya, berita gembira ini tidak dibarengi meningkatnya pendanaan. "Kami kekurangan dana US$ 10 miliar (Rp 90 triliun)," kata Sidibe.

Bila penularan HIV/AIDS di Afrika menurun, tidak demikian dengan Eropa Timur dan Asia Tengah. Berdasarkan laporan tahunan UNAIDS, Eropa Timur dan Asia Tengah telah berkembang pesat epidemi HIV. Bahkan, penyakit mematikan ini menyebar di dua belahan benua itu pada tingkat 500 kasus infeksi baru per hari. Sementara di negara-negara maju, infeksi HIV meningkat di antara kaum homokseksual atau gay.

AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi (sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi HIV. Selain HIV, sindrom kerusakan sistem kekebalan tubuh ini bisa pula dipicu virus yang mirip yang menyerang spesies lainnya. Misalnya, SIV (Simian Immunodeficiency Virus) dan FIV (Feline Immunodeficiency Virus).

Bila tertular, penderita akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik atau mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, penyakit ini belum bisa disembuhkan.

Menurut UNAIDS, saat ini sedikitnya 33.400.000 orang di seluruh dunia terinfeksi HIV/AIDS. Angka ini meningkat 12 kali lipat dalam enam tahun. Sekitar 5,2 juta orang sekarang mendapatkan obat-obatan yang mereka butuhkan. Namun, sekitar 10 juta belum memperoleh obat.(ANS/Reuters)